JAKARTA - UNICEF menggandeng tiga universitas
di Indonesia dalam bidang kesehatan. Ketiga universitas tersebut adalah
Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Universitas Cendrawasih (Uncen)
Papua, dan Politeknik Kesehatan (Poltekes) Jayapura.
Kerja sama dengan badan PBB ini bertujuan memperkuat jaringan antar lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan stakeholder di bidang kesehatan. Kedua, berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang kesehatan ibu dan anak. Ketiga, mengembangkan model pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Terakhir, untuk mengembangakan peluang pendanaan dan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Kerja sama tersebut ditandatangani oleh Rektor Undip Sudharto; Rektor Uncen Balthasar Kambuaya; Direktur Poltekes Jayapura, Isak Jurun Hans Tukayo, serta pihak perwakilan pihak UNICEF Indonesia, Angela Kearny.
Isak mengungkapkan, kerja sama ini dapat dikembangkan ke berbagai bidang, bukan hanya kesehatan saja. "Semoga ini menjadi terobosan baru tidak hanya di bidang kesehatan. Sebab, jika sudah masuk perguruan tinggi, rasanya banyak bidang yang bisa dikembangkan karena banyak peneliti ahli dan pakar dari berbagai fakultas," ujar Isak seperti dilansir dari laman Undip, Kamis (13/10/2011).
Senada dengan Isak, Rektor Uncen, Balthasar menyatakan, kegiatan ini adalah kerja sama yang sangat bermanfaat bagi Uncen dan penting untuk ditindaklanjuti. "Hal ini terkait dengan kondisi masyarakat Papua di mana tingkat kematian ibu dan anak sangat tinggi karena kondisi geografisnya," kata Balthasar.
Melalui kerja sama ini, lanjutnya, diharapkan mampu menjadi solusi atas permasalahan tersebut. "Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang ada di Papua," tuturnya.
Sementara Angela Kearney menyebutkan, masih banyak sekolah medis di dunia yang masih kurang, baik dalam akreditasi maupun kualitas pembelajaran.
"Lebih dari 400 sekolah kebidanan dari 80 negara tidak terakreditasi dengan baik. Demikian juga lebih dari 358 sekolah keperawatan mempunyai kualitas pembelajaran yang kurang, sehingga dikhawatirkan lulusannya kurang memiliki ketrampilan yang memadai di bidangnya," kata Kearney menjelaskan.
Melalui kemitraan ini, Kearney berjanji, akan memberikan kontribusi dalam mencegah kematian dari lima atau lebih wanita yang meninggal karena melahirkan. Serta meningkatkan kelangsungan hidup ibu dan bayi yang baru lahir dengan memperkuat kompetensi perawatan.
Purek I Undip, Hertanto Wahyu Subagyo yang mewakili Rektor menyatakan apresiasinya terhadap kerja sama ini dan berharap Undip dapat memberikan kontribusi maksimal.
"Undip sebagai universitas yang pertama kali membuka program Master Science Terapan juga berharap dapat memberikan kontribusi yang lebih baik dan maksimal dalam kerja sama ini," kata Hertanto menambahkan.(rhs)
Kerja sama dengan badan PBB ini bertujuan memperkuat jaringan antar lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan stakeholder di bidang kesehatan. Kedua, berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang kesehatan ibu dan anak. Ketiga, mengembangkan model pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Terakhir, untuk mengembangakan peluang pendanaan dan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Kerja sama tersebut ditandatangani oleh Rektor Undip Sudharto; Rektor Uncen Balthasar Kambuaya; Direktur Poltekes Jayapura, Isak Jurun Hans Tukayo, serta pihak perwakilan pihak UNICEF Indonesia, Angela Kearny.
Isak mengungkapkan, kerja sama ini dapat dikembangkan ke berbagai bidang, bukan hanya kesehatan saja. "Semoga ini menjadi terobosan baru tidak hanya di bidang kesehatan. Sebab, jika sudah masuk perguruan tinggi, rasanya banyak bidang yang bisa dikembangkan karena banyak peneliti ahli dan pakar dari berbagai fakultas," ujar Isak seperti dilansir dari laman Undip, Kamis (13/10/2011).
Senada dengan Isak, Rektor Uncen, Balthasar menyatakan, kegiatan ini adalah kerja sama yang sangat bermanfaat bagi Uncen dan penting untuk ditindaklanjuti. "Hal ini terkait dengan kondisi masyarakat Papua di mana tingkat kematian ibu dan anak sangat tinggi karena kondisi geografisnya," kata Balthasar.
Melalui kerja sama ini, lanjutnya, diharapkan mampu menjadi solusi atas permasalahan tersebut. "Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang ada di Papua," tuturnya.
Sementara Angela Kearney menyebutkan, masih banyak sekolah medis di dunia yang masih kurang, baik dalam akreditasi maupun kualitas pembelajaran.
"Lebih dari 400 sekolah kebidanan dari 80 negara tidak terakreditasi dengan baik. Demikian juga lebih dari 358 sekolah keperawatan mempunyai kualitas pembelajaran yang kurang, sehingga dikhawatirkan lulusannya kurang memiliki ketrampilan yang memadai di bidangnya," kata Kearney menjelaskan.
Melalui kemitraan ini, Kearney berjanji, akan memberikan kontribusi dalam mencegah kematian dari lima atau lebih wanita yang meninggal karena melahirkan. Serta meningkatkan kelangsungan hidup ibu dan bayi yang baru lahir dengan memperkuat kompetensi perawatan.
Purek I Undip, Hertanto Wahyu Subagyo yang mewakili Rektor menyatakan apresiasinya terhadap kerja sama ini dan berharap Undip dapat memberikan kontribusi maksimal.
"Undip sebagai universitas yang pertama kali membuka program Master Science Terapan juga berharap dapat memberikan kontribusi yang lebih baik dan maksimal dalam kerja sama ini," kata Hertanto menambahkan.(rhs)


















0 komentar:
Posting Komentar