Jumat, 28 Oktober 2011

JAKARTA - UNICEF menggandeng tiga universitas di Indonesia dalam bidang kesehatan. Ketiga universitas tersebut adalah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Universitas Cendrawasih (Uncen) Papua, dan Politeknik Kesehatan (Poltekes) Jayapura.

Kerja sama dengan badan PBB ini bertujuan memperkuat jaringan antar lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan stakeholder di bidang kesehatan. Kedua, berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang kesehatan ibu dan anak. Ketiga, mengembangkan model pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Terakhir, untuk mengembangakan peluang pendanaan dan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Kerja sama tersebut ditandatangani oleh Rektor Undip Sudharto; Rektor Uncen Balthasar Kambuaya; Direktur Poltekes Jayapura, Isak Jurun Hans Tukayo, serta pihak perwakilan pihak UNICEF Indonesia, Angela Kearny.

Isak mengungkapkan, kerja sama ini dapat dikembangkan ke berbagai bidang, bukan hanya kesehatan saja. "Semoga ini menjadi terobosan baru tidak hanya di bidang kesehatan. Sebab, jika sudah masuk perguruan tinggi, rasanya banyak bidang yang bisa dikembangkan karena banyak peneliti ahli dan pakar dari berbagai fakultas," ujar Isak seperti dilansir dari laman Undip, Kamis (13/10/2011).

Senada dengan Isak, Rektor Uncen, Balthasar menyatakan, kegiatan ini adalah kerja sama yang sangat bermanfaat bagi Uncen dan penting untuk ditindaklanjuti. "Hal ini terkait dengan kondisi masyarakat Papua di mana tingkat kematian ibu dan anak sangat tinggi karena kondisi geografisnya," kata Balthasar.

Melalui kerja sama ini, lanjutnya, diharapkan mampu menjadi solusi atas permasalahan tersebut. "Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang ada di Papua," tuturnya.

Sementara Angela Kearney menyebutkan, masih banyak sekolah medis di dunia yang masih kurang, baik dalam akreditasi maupun kualitas pembelajaran.

"Lebih dari 400 sekolah kebidanan dari 80 negara tidak terakreditasi dengan baik. Demikian juga lebih dari 358 sekolah keperawatan mempunyai kualitas pembelajaran yang kurang, sehingga dikhawatirkan lulusannya kurang memiliki ketrampilan yang memadai di bidangnya," kata Kearney menjelaskan.

Melalui kemitraan ini, Kearney berjanji, akan memberikan kontribusi dalam mencegah kematian dari lima atau lebih wanita yang meninggal karena melahirkan. Serta meningkatkan kelangsungan hidup ibu dan bayi yang baru lahir dengan memperkuat kompetensi perawatan.

Purek I Undip, Hertanto Wahyu Subagyo yang mewakili Rektor menyatakan apresiasinya terhadap kerja sama ini dan berharap Undip dapat memberikan kontribusi maksimal.

"Undip sebagai universitas yang pertama kali membuka program Master Science Terapan juga berharap dapat memberikan kontribusi yang lebih baik dan maksimal dalam kerja sama ini," kata Hertanto menambahkan.(rhs)
Readmore »»

Tak Perlu Diet Khusus untuk Ibu Menyusui

KOMPAS.com - Masa menyusui adalah masa sangat berharga bagi seorang ibu dan bayinya. Pada masa-masa ini, seorang ibu harus berupaya agar produksi air susunya lancar, sekaligus berkualitas.
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sang buah hati melalui ASI,  para ibu sebenarnya tak perlu terlalu risau. Supaya ASI yang dihasilkan berkualitas, seorang ibu sebenarnya tak harus melakukan pola diet ketat atau pun sulit untuk diterapkan.
Seperti yang dipaparkan para konselor menyusui dari New York State WIC Training Center, yang perlu dilakukan hanyalah menjalani diet sehat seimbang yang membuat si ibu merasa lebih baik, memberi lebih banyak energi dan terhindar dari stres.   Penelitian bahkan menunjukkan, diet yang “kurang ideal” pun tidak akan mempengaruhi pasokan ASI atau pun kualitas ASI. Jadi, bersantailah wahai ibu. Nikmatilah masa menyusui dengan rileks. Makanlah saat Anda merasa lapar dan minumlah saat merasa haus. Namun ada baiknya juga membuat jadwal "mengemil" makanan dan atau minuman sehat ketika sedang menyusui.
Yang pasti, tidak ada makanan tertentu yang wajib dikonsumsi atau perlu dihindari. Minum susu selama menyusui bukanlah suatu keharusan. Anda juga tak perlu menghindari makanan pedas dan kafein. Pilihlah makanan yang direkomendasikan bagi semua orang sperti buah-buahan segar, sayuran, roti gandum dan sereal. Makanan yang kaya akan kalsium dan protein juga perlu menjadi bagian dari diet ibu menyusui.
Menyantap makanan yang bervariasi dapat menjadi keuntungan tersendiri bagi bayi yang disusui. Beberapa jenis makanan dapat sedikit mempengaruhi rasa ASI sehingga  memberikan semacam perkenalan awal bagi bayi untuk mengecap rasa makanan. Hal juga penting untuk menyiapkan bayi mengenal beragam rasa makanan ketika dewasa nanti.
Makanan yang mengandung gas seperti brokoli atau makanan asam seperti jus jeruk belum terbukti menyebabkan bayi yang disusui menjadi rewel. Gas ini disebabkan oleh serat dalam makanan saat melewati organ pencernaan. Sedangkan serat tidak akan melebur ke dalam ASI.
Sangat jarang ditemukan kasus bayi mengalami alergi atau sensitif terhadap makanan yang dikonsumsi oleh ibunya. Alergi justru lebih timbul akibat sesuatu yang diberikan secara langsung kepada sang bayi seperti formula, jus atau makanan padat.
Jika Anda benar-benar merasa bahwa bayi Anda bereaksi terhadap sesuatu dalam diet Anda, pikirkan kembali apa yang telah Anda makan dalam beberapa hari terakhir.
Makanan baru atau porsi makanan yang besar bisa menjadi penyebabnya. Kafein dalam jumlah besar juga dapat menjadi penyebab bayi rewel. Mengonsumsi sedikit atau menghindari makanan-makanan tersebut selama 2-3 hari dapat memecahkan masalah.
Secara umum, jika seorang ibu sudah  memiliki pola makan yang sehat, tidak perlu mengubahnya. Jika diet ibu termasuk “kurang ideal”, masa menyusui mungkin merupakan waktu yang tepat untuk memperbaikinya. Tetapi jangan merasa bahwa Anda harus menghindari makanan yang Anda sukai atau tidak disukai. Santailah terhadap diet Anda, dan nikmatilah waktu untuk menyusui bayi Anda.

Readmore »» Tak Perlu Diet Khusus untuk Ibu Menyusui